Tuesday, July 24, 2012

Saya Jatuh Cinta dengan Taman Nasional Komodo


The Map

Akhir Oktober tahun lalu salah seorang teman mengajak berkunjung ke Pulau Komodo, dan tanpa berpikir panjang saya langsung meng-iyakan ajakan tersebut. Wow, Pulau Komodo! Kalau tidak sekarang ya kapan lagi? Berhubung biaya yang harus kami sediakan tergolong banyak, maka trip ini kami jadwalkan di bulan Maret, tanggal 22 - 25 tahun berikutnya.   

Berdasarkan penelitian (ya kali deh), salah satu cara termurah dan memuaskan untuk menikmati keindahan kepulauan komodo adalah dengan live aboard. Informasi mengenai live aboard ini banyak sekali terdapat di internet, dan ada beberapa tipe trip yang ditawarkan dan kebanyakan adalah diving trip yang pastinya lebih menguras kocek. Kami memutuskan mengambil regular live aboard (2malam menginap di kapal dan 1 malam menginap di Pulau Kanawa), pick up/drop off point di Airport Labuan Bajo untuk 20orang. Biaya yang kami keluarkan juga tergolong murah, hanya 1500K IDR tiap orangnya. Dikarenakan jadwal penjemputan di Airport Labuan Bajo agak pagi, saya dan beberapa orang teman memutuskan untuk menginap semalam di Bali dan berangkat menuju Labuan Bajo menggunakan pesawat keesokan paginya. 



21 Maret 2012. Hari ini saya berangkat penuh dengan keraguan karena cuaca yang kurang bersahabat akhir-akhir ini. Tetapi, demi Pulau Komodo akhirnya saya hilangkan keraguan dan menguatkan niat untuk berangkat. Perjalanan ini diawali dengan delaynya pesawat kami (saya berangkat bersama Dian, salah satu peserta trip) menuju Bali, kemudian disusul dengan penerbangan yang tidak begitu lancar, banyak turbulence yang disebabkan oleh cuaca buruk selama perjalanan. Begitu sampai di Bandara Ngurah Rai salah seorang teman yang juga ikut trip ini (Dewa) sudah menunggu. Malam ini saya menginap di Sayang Mahamerta Hotel, Legian bersama Dewa, sedangkan Dian menginap di rumah teman di daerah Denpasar. Selesai check in dan menaruh barang, saya dan Dewa memutuskan untuk mencari udara segar sekaligus mencari makan malam, tujuan kami adalah Kuta. Setelah berputar entah beberapa kali (sedikit window shopping) dan terjebak hujan besar, akhirnya kami makan malam di sebuah kios yang masih buka. Entah karena saat itu menjelang libur Nyepi atau apa, tetapi malam itu daerah Legian dan Kuta tampak sepi dari wisatawan.

no coveyor belt available :p
22 Maret 2012. Finally! The day has come, Komodo here we come! Pagi ini, setelah sekian lama, akhirnya saya kembali naik pesawat baling-baling dengan kapasitas kurang dari 100orang. Untuk orang yang takut naik pesawat seperti saya, perjalanan selama 1 jam menggunakan pesawat ini merupakan cobaan yang lumayan berat. Sepanjang perjalanan saya menutup mata, sesekali mencuri pandang pemandangan saat take off dan landing. Keindahan pulau2 di Kepulauan Taman Nasional Komodo bisa meredakan rasa takut yang saya rasakan sedari tadi, a total beauty! Tanpa terasa sampailah saya di Airport Labuan Bajo. Airport Labuan Bajo bisa dibilang masih "terbelakang". Tidak ada yang namanya conveyor belt, bahkan saya yang kehilangan boarding pass pun bisa mengambil luggage dengan sembarang. Di depan airport sudah menunggu Bang Dhani, sang penggagas acara. Disana saya diperkenalkan dengan beberapa orang peserta lainnya. Disinilah saya mendapatkan berita buruk, bahwa Dian tidak bisa ikut bersama kami karena terdapat kesalahan salah tanggal di tiket Denpasar - Labuan Bajo yang dia beli (puk2 Dian karena harus menghabiskan waktu di Bali saat hari raya Nyepi). Sambil menunggu kedatangan peserta lain, sebagian peserta diantar menuju ke pelabuhan untuk berkumpul dengan peserta lain yang sudah datang terlebih dahulu. 

Ketika mobil yang membawa saya masuk ke dalam pelabuhan, saya merasa terpukau dengan pemandangan yang disajikannya. You can say this would be the best view i had so far! Jajaran pulau2 yang berbentuk bukit2 berwarna hijau benar-benar memanjakan mata! Tak lama kemudian ketika semua peserta sudah terkumpul, kami dibawa menuju kapal "Bintang Laut Express" yang akan menjadi rumah kami selama 3 hari kedepan.
"rumah kami - tampak belakang"

Kapal Bintang Laut Express, terdiri dari 3 lantai dan difasilitasi dengan AC + kipas angin di ruang tidur. Lantai paling bawah merupakan ruang tidur yang terdiri dari kasur2 yang diberi partisi yang terkesan menjadi sebuah kamar. Tiap "kamar" diseting untuk 3 orang. Masing-masing peserta diberi selembar handuk dan selimut. Lantai kedua adalah ruang masak sekaligus ruang makan, disinilah kami banyak menghabiskan waktu sambil melihat pemandangan yang luar biasa. Yang selanjutnya, lantai paling atas adalah kamar sang kapten kapal dan terdapat space untuk bersantai.

The famous Komodo - photo courtesy of Sofyan Ardianto
Dermaga Loh Buaya
Acara di hari pertama ini diisi dengan trekking di pulau Rinca, dan sebelumnya kami disajikan makan siang yang luar biasa enak oleh sang chef kapal, sayang sekali selama perjalanan ini Dewa sedang menunaikan ibadah puasa menjelang Paskah, jadi dia hanya bisa melihat kami menikmati makanan tersebut, hebat sekali teman saya yang satu itu! Karena kapal besar tidak diperbolehkan merapat di dermaga, maka kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diantar menuju dermaga dengan kapal kecil. Sesampainya di Loh Buaya (dermaga menuju Pulau Rinca), kami diberi pengarahan oleh para "ranger" yang bertugas. Pulau Rinca merupakan salah satu dari dua pulau yang ditemukan habitat komodo di wilayah Taman Nasional Komodo ini. Selain komodo, di pulau ini juga terdapat hewan liar seperti babi. kerbau dan rusa. Para ranger kerap kali memberikan peringatan kepada kelompok kami untuk selalu waspada selama berada di pulau ini. Sebelum memulai trekking, para ranger memberikan beberapa pengarahan/briefing kepada kami untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi sepertinya pengarahan yang diberikan tidak terlalu kami anggap serius, karena pada kenyataannya banyak sekali aturan2 yang kami langgar (untung tidak terjadi hal yang tidak diinginkan). 

Trekking menuju puncak bukit
Keindahan pemandangan Pulau Rinca sudah membius kami, sehingga melupakan segala aturan yang ada. Trekking menuju ke atas bukit memakan waktu kurang dari 1 jam. Walaupun jarak yang kami lalui lumayan menanjak dan melelahkan sangatlah tidak terasa karena kami banyak menghabiskan waktu dengan foto2 selama trekking. Sesampainya di atas bukit, seperti tidak ingin kehilangan momen, semua sibuk mengambil gambar pemandangan gugusan pulau-pulau dari atas atau sekadar foto narsis (including me :p). Setelah puas kami diajak sang ranger untuk meliat sarang komodo betina menyimpan telur-telur mereka. Puas berjelajah, kami pun diajak ke sebuah pendopo untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke kapal untuk menghabiskan malam pertama. 
Pemandangan dari puncak bukit - courtesy of @ynnadr
23 Maret 2012, saatnya mengunjungi Pulau Komodo, habitat asli hewan Komodo! Hari ini jadwal kami adalah trekking di Pulau Komodo, snorkeling di Pulau Komodo dan bersantai di Pink Beach. Seperti halnya kemarin, kami kembali diantar ke dermaga Loh Liang (dermaga menuju Pulau Komodo) dengan menggunakan kapal kecil. Agak berbeda dengan Pulau Rinca, jalur trekking di Pulau Komodo lebih lembab karena dinaungi oleh banyak pohon dan jalurnya "agak" datar. Ada 3 jalur trekking yang terdapat di Pulau Komodo, yaitu: Short - Medium - Long - Adventure track. Karena beberapa orang di grup kami tidak terbiasa trekking di medan berat, maka dipilihlah medium track, yang menurut saya kurang memuaskan karena jalurnya sangatlah pendek. Sambil berjalan, tidak jarang para ranger bercerita mengenai sang komodo dan beberapa kejadian yang berhubungan dengan sang hewan tersebut. Titik tertinggi trekking kali ini adalah Sulphurea Hill Top, walaupun tidak seindah pemandangan yang kami lihat di Pulau Rinca, pemandangan disini bisa dibilang menarik. Kami pun tidak menyia2kan kesempatan untuk berfoto bersama disini. Setelah puas menikmati pemandangan, para ranger akhirnya mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Beliau mengantar kami ke tempat penjualan souvenir khas daerah ini, yaitu miniatur patung komodo dan beberapa perhiasan yang terbuat dari mutiara.
The entrance - photo courtesy of @ynnadr

The trails
Sulphurea Hill top

















Sang komodo
Pink beach - photo courtesy of Sofyan Ardiyanto
Puas menikmati pemandangan "atas" laut yang cukup menghipnotis, sekarang saatnya untuk menikmati pemandangan "bawah" laut yang tidak kalah menariknya! Setelah berganti "kostum" kami dibawa oleh sang kapten untuk snorkeling di dekat pink beach. Kenapa disebut pink beach? Karena pasir di pesisir pantai tersebut berwarna merah muda. Ini disebabkan oleh terkikisnya karang berwarna merah dan tercampur dengan pasir yang ada di pantai (kalau tidak salah).  Seperti biasa, kami diantar menuju pink beach menggunakan kapal kecil. Pemandangan bawah laut yang ada di daerah ini lumayan bagus, tetapi sayang sekali arus di daerah itu cukup deras, sehingga saya tidak bisa menikmati dengan puas. Dan saya memutuskan untuk bersantai di pinggir pantai :).
Tak lama kembali dijemput dengan kapal kecil untuk menikmati santap siang sebelum melanjutkan eksplosari bawah laut, alias snorkeling. Seperti biasa, menu yang disajikan sangat menggugah selera, terlebih lagi setelah kami melalui berbagai aktivitas yang lumayan menguras tenaga sebelumnya. Makanan enak + angin semilir laut + pemandangan yang memanjakan mata = great lunch indeed! Selesai menyantap makan siang, sang kapten mengarahkan kapal menuju Pink beach di sisi lain Pulau Komodo, dan kali ini kami menghabiskan lebih banyak waktu disini. Tidak seperti lokasi sebelumnya, arus di daerah ini tidak begitu deras, sehingga kami bisa lebih menikmati keindahan pemandangan bawah laut. Letih snorkeling, beberapa orang dari kami mulai menelusuri pesisir pantai. Setelah puas, kamipun kembali ke kapal untuk melewati malam kedua :)

24 Maret 2012, hari terakhir di kapal! Pagi ini acara kami diisi dengan berenang bersama ikan pari manta atau Manta Ray yang berukuran sangat besar. Sebenarnya saya pernah melihat manta ray ini di salah satu tempat pengelolaan manta ray di Australia, Shark and Ray Centre. Tetapi pengalaman kali ini jauuh lebih berkesan! Saya begitu terkesima dengan ukuran manta yang sangat besar. Ahh, betapa kayanya Indonesia! Menjelang siang, kapal mulai bergerak menuju Pulau Kanawa, sebuah pulau kecil berjarak 15km dari Labuan Bajo yang mulai terkenal dengan Eco Resortnya, tempat dimana kami akan bermalam. Sebelum turun ke pulau tersebut sang chef kapal menyuguhkan makan siang penutup dan kamipun menyiapkan sedikit kenang2an untuk awak kapal.
the mighty manta - photo courtesy of Sofyan Ardiyanto
foto keluarga :)
santai siang :)
Welcome to Kanawa! - photo courtesy of @ynnadr
Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan awak kapal, kami pun beranjak menuju Pulau Kanawa. Kedatangan rombongan kami disambut oleh 2 buah anjing cantik milik sang pengurus resort. Di pulau ini terdapat 2 tipe akomodasi, cottage atau tenda. Dari keseluruhan rombongan, ada 4 orang yang memilih untuk tidur di tenda, saya sendiri memilih untuk tidur di cottage bersama Dewa. Siang itu kami habiskan dengan snorkeling di pinggir pantai (which is quite beautiful), berjalan menyusuri pantai dan mencoba naik canoe. Mba Indah, satu2nya peserta yang memiliki lisensi menyelam memilih untuk menghabiskan waktu dengan menyelam. Ketika menjelang terbenamnya matahari, sebagian dari kami pergi menuju sebuah bukit yang memang terkenal sebagai lokasi yang tepat untuk melihat sunset. Ternyata jalan menuju puncak bukit itu agak terjal dan dipenuhi dengan pohon2 berduri, benar2 butuh perjuangan, but it's all worthed! Sesampainya di puncak, kami bertemu dengan 2 orang asing berkewarganegaraan Italia dan Perancis yang sedang membuat sebuah pendopo di atas bukit. Ternyata salah seorang dari mereka adalah pengurus resort yang kami tinggali. Kami sempat mengobrol sebentar dengan Thierry, teman dari pengurus resort. Beliau ternyata menetap di Bali, bahkan beristrikan orang Bali :)

Sunset at Kanawa
Mengingat jalur yang harus kembali dilalui cukup berat, setelah puas berfoto2 kami segera bergegas turun sebelum gelap. Di tengah jalan saya langsung terkagum2 melihat bagaimana indahnya pemandangan matahari terbenam saat itu, mirip sekali dengan lukisan! Can't resist, kamipun berhenti sejenak untuk foto2. Entah apa karena rasa puas karena mendapatkan pemandangan yang sangat indah, perjalanan kembali menuju cottage tidaklah sesulit ketika kami menanjak pertama kali. Satu hal menarik dari resort tempat kami menginap adalah sistem pembatasan penggunaan air di tiap kamar. Karena terbatasnya kesediaan air tawar / payau, masing2 kamar dibatasi sampai 50ltr, akan terdapat biaya extra, menarik bukan?
"Makan malam kali ini akan disajikan di pinggir pantai" begitu kata salah seorang petugas resort. Woohhhoo, I'm so excited! Dan, kami menghabiskan malam terakhir trip pulau komodo ditemani dengan suara deburan ombak dan taburan bintang-bintang di langit (lebay.com).

25 Maret 2012. Setalah sarapan, kami langsung berangkat ke aiport labuan bajo, tanda berakhirnya perjalanan ini :) Sebagian besar grup kami naik pesawat menuju Denpasar dan lanjut pulang ke rumah masing2, dan beberapa orang ada yang melanjutkan perjalanan ke Flores. Saya sendiri bersama Dewa dan Attriya memilih untuk menghabiskan hari ini di Bali dengan menyewa mobil sebelum pulang ke Jakarta keesokan harinya. Sesampainya di Bali, waktu menunjukkan saatnya makan siang! Dewa dan Attriya yang sudah sampai beberapa jam sebelum saya datang menjemput ke Airport dan kami langsung meluncur ke rumah makan ayam betutu khas gilimanuk untuk santap siang. Kemudian lanjut membeli oleh2 di Krisna yang berlokasi tidak jauh dari sana, disini kami janji bertemu dengan Dian. Sudah mulai sore, bingung mau kemana lagi, akhirnya kami mengunjungi uluwatu untuk menonton tari kecak. Selesai menonton pertunjukan tari kecak, kami berputar-putar Denpasar untuk mencari makan malam, dan akhirnya pilihan jatuh ke sebuah resto kecil di daerah Legian - Kuta. Setelah makan, karena letih kami pun pergi penginapan untuk istirahat sebelum pulang ke Jakarta besok pagi.  

26 Maret 2012. Saatnya pulang dan kembali ke realita :(